Mengenal lingkungan sejak dini

Rabu (21/06) kemaren saya mendapat kesempatan mengikuti program pendidikan lingkungan untuk anak-anak di Jepang. Sebuah cara mengenalkan kondisi lingkungan kepada anak-anak, sehingga diharapkan mereka mempunyai kesadaran untuk menjaga lingkungannya dikemudian hari.

Kegiatan ini menjadi pengalaman menarik bagi saya, karena disamping rasa penasaran, ini juga pertama kalinya mengunjungi sekolah dasar.

Tema pembelajaran lingkungan yang saya ikuti kali ini adalah tentang sungai. Saya penasaran, bagaimana cara pemerintah Jepang mengajarkan pendidikan lingkungan ke anak-anak mudanya. Pemerintah Jepang melalui Kementerian Lingkungan merancang modul yang diterapkan secara nasional, modul tersebut dapat didownload disini.

Jam 7.30 pagi, saya sudah janjian dengan seorang Sensei dari Universitas Kitakyushu, bernama 原口公子 (Kimiko Hiraguchi). Bersama dengan mahasiswa lain, jam 7.32 kita berangkat ke lokasi. Lokasi sungai yang dijadikan tempat belajar adalah sungai Sasao, sebuah sungai kecil yang bermuara ke Sungai Onga.

Tepian Sungai Sasao

Pemerintah Kota Kitakyushu telah menyiapkan beberapa sungai untuk dijadikan sebagai ruang belajar terbuka. Bantaran sungai didesain sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran.

Sungai Sasao, yang didesain khusus untuk sarana pembelajaran

Sungai Sasao, yang didesain khusus untuk sarana pembelajaran

Sungai Sasao, yang didesain khusus untuk sarana pembelajaran

Namun, cuaca kurang bersahabat pagi ini memaksa penyelenggara untuk memindahkan lokasi ke area sekolah yang tidak jauh dari lokasi.

Pendidikan lingkungan hidup kali ini ditujukan untuk murid kelas 5 SD. Sampai dilokasi saya baru tahu bahwa pemateri dari pendidikan lingkungan hidup ini berasal dari praktisi di bidangnya. Ada yang dari universitas, perusahaan air minum dan relawan, sedangkan guru hanya mendampingi saja.

Isi materi sungai yang diajarkan adalah:

  1. Keadaan sungai
  2. Keanekaragam tumbuhan dan hewan
  3. Kualitas air
  4. Keindahan sungai
  5. Kearifan budaya lokal

Tiap materi mempunyai posko masing-masing, murid-murid dibagi beberapa kelompok dan berkunjung ke masing-masing posko untuk mendapatkan materi. Disetiap murid diberikan lembaran evaluasi untuk menilai kondisi lingkungan yang diamati.

Lembaran evaluasi

Mari mengenal sungai…

Pada posko pertama, murid-murid dikenalkan dengan keadaan sungai, berupa daerah aliran sungai, kondisi aliran sungai ketika hujan. Pada posko ini juga dijelaskan keadaan bantaran sungai dan kondisi hulu dari sungai tersebut.

Pada posko pertama, murid-murid dikenalkan dengan keadaan sungai, berupa daerah aliran sungai, kondisi aliran sungai ketika hujan. Pada posko ini juga dijelaskan keadaan bantaran sungai dan kondisi hulu dari sungai tersebut.

Staf dari perusahaan air minum lokal bertanggung jawab memberikan materi keadaan sungai

Setelah selesai mendapatkan Materi Keadaan sungai sekitar 20 menit, materi selanjutnya adalah Keanekaragam tumbuhan dan hewan. Murid-murid mendengarkan materi dan terlibat mengamati tentang tumbuhan, hewan dan ikan apa saja yang bisa ditemui di sungai.

Materi Keanekaragam tumbuhan dan hewan

Materi Keanekaragam tumbuhan dan hewan

Materi ketiga adalah kualitas air sungai. Dipandu oleh Kimiko sensei, posko ini mengenalkan cara mengukur kualitas air berupa kekeruhan dan COD.

Sebuah tabung dengan panjang 1.5m digunakan untuk melihat kekeruhan air

Kimiko sensei mengajarkan cara menganalisa COD air sungai

Penentuan COD dilakukan dengan mencocokkan warna sampel air dengan standar

Setelah melakukan percobaan di posko 3, murid-murid selanjutnya diarahkan ke posko 4 untuk mendapatkan materi Keindahan sungai. Pada posko ini murid-murid diajak melakukan asesmen berupa keindahan sungai (feeling), ada atau tidak sampah di sungai (visual), menyentuh air sungai (touching), karakteristik ada atau tidak bau dari air sungai tersebut (smelling) dan suara yang dihasilkan oleh sungai (audial).

Posko kelima merupakan posko terakhir. Materi yang diberikan diposko ini adalah kearifan budaya lokal diantaranya; sejarah sungai, accessibility sungai, pemanfaatan sungai dalam kehidupan sehari, pemanfaatan sungai untuk kebutuhan industri dan fungsi sungai sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat.

Setelah semua selesai, Bapak Kepala Sekolah memberikan kata penutup, murid-murid kembali ke kelas masing-masing dan untuk para pemateri ditutup dengan makan bersama*.

Kepala sekolah menutup acara

dan makan-makan…

*saya ga ikut makan, karena lagi puasa. Jadi cukup foto-foto saja… 😀

Terima kasih kepada SUW Education Program atas undangannya untuk dapat mengikuti acara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *